Volume 6 – Bahkan Walaupun Aku Sudah Diberitahu Sekarang Aku Memiliki Sayap いまさら翼といわれても



1. Apa yang Hilang dari Kotaknya

1.

Aku bukan tipe orang yang dengan jelas mengingat hal-hal yang sudah datang dan pergi. Bahkan seandainya ada yang memberitahuku bahwa ada sesuatu atau hal lain yang pasti terjadi, katakanlah di SD atau SMP, terlalu sering aku hanya bisa menatap kosong ke arah mereka, menawarkan sesuatu yang tidak pasti “Apa itu terjadi sekarang?” sebagai tanggapannya. Namun, meski ada juga pengalaman yang aku bagikan pada orang lain, kadang-kadang aku satu-satunya yang mampu menyimpan ingatan jelas tentang mereka nanti. Aku sama sekali tidak tahu apa perbedaan apa yang akhirnya aku akan lupakan dan apa yang selalu aku ingat.

Menelusuri ingatanku—melewati tempat-tempat dan kejadian abu-abu yang tampak tak terbatas dan tak pasti—ada saat-saat tertentu dari ingatan yang hidup. Peristiwa-peristiwa yang sebagian besar seperti festival olahraga, kunjungan siang hari, dan perjalanan lapangan melalui hutan, sementara yang lain meliput kejadian tak berarti yang tidak aku anggap penting, namun, melalui peletakan waktu yang bertahap, masih ditemukan entah bagaimana disemen di tempat khusus dalam ingatanku. Aku tidak bisa menahan rasa kekaguman yang aneh atas keuletan mereka. Di sisi lain, aku menyadari ada juga saat ketika aku mendapati diriku dengan jelas mengingat satu pecahan kecil dari hari yang benar-benar normal, yang sama sekali tidak dapat dibedakan dari yang lain pada saat itu. Berbeda dengan ingatan mendetail seperti majalah, yang mencatat peristiwa-peristiwanya, mereka sangat terpecah-belah, tidak memiliki apa pun yang menyatkannya. Bahkan saat itu, mereka sulit dilupakan, kenangan yang mirip dengan foto lama yang tak bisa kau buang. Misalnya, tanpa lelah mengamati pusaran air yang lahir dari benturan saluran air di musim panas, imajinasi yang kuat muncul dari deretan volume yang dipaksakan dari rak buku perpustakaan yang tidak terjangkau di musim dingin, bersaing untuk buku terakhir di sebuah toko saat perjalanan pulang bersama temanmu, yang akhirnya kalian berdua menyerahkannya di musim gugur … Apa sebenarnya yang memisahkan ingatan ini dari ingatan yang tak terhitung sudah terlupakan?

Lalu ada saat-saat ketika aku tiba-tiba tersentak oleh perasaan tertentu: “aku mungkin tidak akan pernah melupakan ini.” Tidakkah aku juga selalu ingat pada malam bulan Juni itu, di mana aku berjalan di jalanan yang diselimuti oleh angin yang hangat? Padahal, kurasa aku tidak akan bisa memastikan perasaanku sampai sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang.


Semuanya dimulai dengan satu panggilan telepon.



2.

Aku membuat yakisoba untuk makan malam sore itu.

Hari itu sudah cukup cerah di sore hari, tapi karena awan berkumpul saat siang berakhir dan sepertinya mencegah panas keluar kembali ke langit, udara malam di sekitarku melembab dan tidak ada pendingin, meskipun tidak ada sinar matahari. Karena semua orang lain di keluargaku memiliki masalah mendesak yang harus diurus, aku sendirian di rumah. Memasak terdengar merepotkan, jadi aku mengintip melalui kulkas dengan harapan bisa menemukan sisa makanan atau makanan lain yang tidak memerlukan usaha untuk menyajikannya dan melihat beberapa mie kering yang dimaksudkan untuk membuat yakisoba.

Aku menemukan beberapa selada layu, jamur enoki kering, dan daging babi, jadi aku memotongnya sampai habis. Aku menambahkan minyak ke wajan yang sudah dipanaskan sebelumnya dan segera memasukan mienya, membiarkan mereka diam di sana untuk sementara waktu. Uap putih mulai mengepul dari panci, dan aku menjadi agak cemas karena aku belum menambahkan air, tapi akhirnya aku berhasil menekan perasaan itu pada akhirnya dan menunggu beberapa menit saat sedang dimasak, kemudian membalikkan mienya sesekali. Aku kemudian memindahkannya—renyah dan hampir gosong—ke piring sekaligus dan kemudian mulai menumis bahan lainnya. Ketika mereka dimasak, aku memindahkan mereka ke tepi wajan dengan sumpit masak yang panjang dan menuangkan saus Worcestershire ke tempat yang sekarang kosong. Saat mulai mendidih, keharuman khasnya tercium dari panci dan mewarnai udara dapur di sekelilingku dengan nada yakisoba. Akhirnya aku menambahkan saus ke mienya dan dengan tenang melemparkan campurannya. Dengan begitu semuanya siap sedia.

Aku membawa piringnya dari dapur ke ruang keluarga dan kemudian mengeluarkan sumpit dengan segelas teh jelai untuk menyelesaikan persiapanku. Di atas meja ada semacam kartu pos untuk kakak perempuanku, dibaca "Pemberitahuan Reuni Kelas 3-I." Aku tidak ingin membayangkan apa yang akan dia katakan kepadaku jika akhirnya aku tidak sengaja menjatuhkan saus di atasnya, jadi aku memindahkan kartu pos ke rak surat, dan akhirnya, saku siap untuk menyantapnya tanpa ada gangguan lebih lanjut. Aku mengangkat kedua tanganku, dan saat aku mengambil sumpit, telepon pun mulai berdering.

Aku melihat jam dinding dan membaca persis jam setengah tujuh. Saraf seseorang untuk menelpon pada waktu untuk makan malam ... Untuk menambahkannya, aku adalah orang satu-satunya rumah, jadi siapa pun yang ingin mereka ajak bicara kemungkinan tidak akan ada di sini. Awalnya, aku hanya akan membiarkannya terus berdering saat aku mengambil mie yakisoba yang mengepul, tapi akhirnya telpon begitu gencar dan tulus sehingga mengabaikannya lebih jauh menyebabkan perasaan bersalah yang aneh terjadi dari dalam diriku. Jika aku harus melakukannya, lakukan dengan cepat; Aku menghela napas dan meletakkan sumpitku kembali. Aku berdiri dan mengangkat gagang teleponnya.

"Ya?"

"Halo, apa Oreki-kun—"

Aku menganggap bahwa telepon itu ditujukan untuk ayah atau kakakku, tapi suara di bagian akhirnya menjadi satu hal yang sangat kukenal. Mungkin menebak dari suaraku dan suasananya di antara kami, orang yang menelepon tiba-tiba beralih dari nada sopan menjadi nada yang biasa.

"Houtarou?"

"Yeah."

"Whew, sungguh melegakan. Aku tidak berpikir kau akan jadi orang yang menjawab. Aku tidak tahu apa yang harus katakan jika kakakmu yang mengangkat telepon."

Meskipun mungkin kebetulan bagi Satoshi Fukube, aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untukku.

"Maaf, tapi setiap detik aku berbicara denganmu, yakisoba-ku menjadi semakin dingin."

"Apa?! Yakisoba kau bilang?! Sungguh tragedi!"

Ya, tragedi, memang.

"Aku senang kau mengerti. Kalau begitu langsung pada intinya."

Aku mendengar tawa dalam suaranya. "Kau tidak akan punya masalah seperti ini jika kau sudah punya HP. Walaupun itu bukan apa yang ingin aku bicarakan... Aku berharap kau mau berjalan-jalan denganku. Apa kau bebas setelah ini?"

Karena aku bukan tipe orang yang berpesta sampai larut malam, aku jarang meninggalkan rumah setelah makan malam. Walaupun ini tidak seperti itu tidak keterlaluan. Memikirkannya kembali ... itu benar. Suatu hari aku pernah berjalan-jalan dengan Satoshi. Aku melirik jam lagi. Mungkin perlu waktu lima belas menit untuk menyelesaikan yakisobanya, dan beberapa menit untuk mengganti baju.

"Yeah, aku bisa keluar sekitar jam delapan."

"Oke. Aku senang mendengarnya. Haruskah aku datang menjemputmu?"

Aku membuka peta di kepalaku dari jarak di antara rumah kita berdua. Aku yakin dia akan mau datang ke sini mengingat dia adalah orang yang memintaku bicara, tapi aku rasa tidak ada alasan untuk mengerjainya seperti itu. Aku memikirkan sebuah lokasi yang setara jaraknya dari rumah kami.

"Ayo bertemu di Jembatan Akabashi."

"Terdengar bagus. Akan mengerikan jika membiarkan yakisoba-mu semakin mendingin, jadi mari kita lanjutkan pembicaraan kita nanti. Dah."

Panggilan segera berakhir tanpa keraguan atau ucapan menutup telpon. Dia mungkin mengira bahwa berbicara lebih lama hanya akan menggangguku; kepekaan itu seperti dirinya.

Ketika aku kembali ke meja, permukaan yakisoba-nya sebenarnya mendingin. Dengan satu, dua adukan dari apa yang sebelumnya tampak dingin, bagaimanapun, panas mulai muncul dari hidangannya sekali lagi.

Cahaya bulan menembus awan tipis di langit, dan angin sepoi-sepoi bertiup di antara banyak rumah di sekitarku. Aku keluar rumah dengan memakai kemeja wol pada awalnya tapi langsung terasa terlalu panas meskipun ada angin malam, jadi aku menggantinya menjadi baju berbahan katun. Walaupun aku tidak bisa memasukkan dompetku ke saku kocekku, ide membawa tas bersamaku terdengar merepotkan. Namun pada saat yang sama, aku tidak dapat benarbenar mengandalkan Satoshi untuk meminjamkanku uang jika kita menghabiskan uang dan

aku tidak memilikinya lagi, jadi aku mengambil dua lembar seribu yen dari dompetku dan meletakkannya ke saku bajuku.

Aku menempelkan jempol ke saku celanaku dan meninggalkan rumah pada jam yang dijanjikan, tapi malam turun lebih awal di Kota Kamiyama, dan jalan-jalan sempit sudah mulai sunyi.

Meski aku sama sekali tidak terburu-buru, aku berhasil sampai pada titik pertemuan kami dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Karena nama Akabashi secara harfiah berarti "jembatan merah", itu sangat umum terjadi, dan kenyataannya, jembatan yang kita temui bahkan tidak disebut begitu sejak awal. Itu disebut begitu, seperti yang bisa kau bayangkan, karena cat merah, dan nama aslinya terlupakan dengan sangat mudah. Kawasan itu sendiri kerap ramai di sore hari karena ada bank dan kantor pos terdekat, tapi aku tidak tahu tempatnya menjadi sangat kosong setelah matahari terbenam. Aku melihat jembatan merah itu, diterangi oleh lampu jalan, tapi aku tidak melihat siapa pun di sana. Sungguh aneh, pikirku, kupikir dia pasti sudah pergi dulu. Ketika aku melihat ke sekeliling, sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahuku dari belakang.

"Sore..."

Meskipun aku akan berbohong jika aku berkata bahwa aku tidak terkejut, aku juga tidak terkejut. Mungkin aku merasakan serangannya yang mengejutkan saat aku tidak melihatnya pada awalnya. Tanpa berbalik, aku menjawab dengan sederhana, "Hei."

"Sungguh mengecewakan. Dimana cintanya?"

Satoshi melingkar di depanku dengan senyum lebar di wajahnya, tapi rasanya ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyumannya. Matanya tidak menemuiku, tapi malah terpaku di jembatan saat dia melanjutkan.

"Kemana seharusnya kita pergi sekarang?"

"Aku akan menyerahkannya padamu."

Aku tidak memiliki banyak pengalaman dengan hal-hal semacam ini, jadi aku tidak tahu apa yang normal untuk jalan-jalan di malam hari. Satoshi menoleh dan berkata, "Ini akan menjadi sedikit lebih semarak jika kita berjalan menuju kota, tapi ... kurasa kita tidak bisa melewati jalanan dengan semua jeruji besi. Mereka sangat menakutkan."

"Mungkin, yeah, Tuan Wakil Ketua Komite Eksekutif."

"Ada restoran keluarga di depan jika kita mengikuti jalannya. Mereka buka 24 jam." Itu cukup jauh. Kami tidak akan bisa sampai di sana tanpa mobil, atau setidaknya sepeda. Kurasa Satoshi tidak serius, namun, saat dia melanjutkan, "Baiklah, ayo kita lihat dimana angin membawa kita."

Aku tidak keberatan sedikitpun.

Satoshi menyeberangi Jembatan Akabashi dan mulai mengikuti jalan kecil menuju hulu, di sepanjang sungai kota. Ada lebih banyak air di dalamnya daripada biasanya, mungkin akibat musim hujan, dan aku bisa mendengar suara arus kuat yang tercurah. Tidak ada lampu jalan di bagian kota ini, jadi aku hanya bisa mengandalkan cahaya yang merembes dari jendela rumah yang diterangi cahaya dan bulan yang tersembunyi untuk melihat jalanku. Dengan begitu, mataku akhirnya menjadi sangat terbiasa dengan kegelapan. Melewati sebuah knothole yang keriput di pagar kayu tua, melewati bar sake yang dibangun dengan rasa ingin tahu dengan sebuah bola tradisional dari daun cedar terjalin yang berfungsi sebagai pelanggan yang berpadu dari atap, melewati pemandian mandi umum dengan tanda "tutup" yang terpampang di depannya. Kami berjalan perlahan melewati malam kota.

Tanggul sudah dibangun di kedua sisi sungai, dan mereka tampak seperti dinding batu besar. Sejumlah pohon ditanam di sepanjang tepinya, dan di antaranya ada yang melengkung di atas permukaan air, hampir seolah-olah mereka keluar dari prosesi dengan harapan bisa menemukan sinar matahari. Tiba-tiba aku berhenti dan meletakkan tangan di salah satu pohon pinggir jalan itu. Permukaannya melimpah dengan benjolan dan tonjolan kaku, dan dedaunannya menyerupai ukuran shiso. Itu adalah pohon bunga sakura. Aku yakin ini adalah tempat yang populer untuk melihat bunga sakura, dan jalan-jalan yang terawat ini pastinya menjadi ramai di musim bunga mekar. Pada saat ini, hanya Satoshi dan aku yang berjalan bersama mereka, dan pohon-pohon yang telah membuang bunga mereka bahkan tidak dikenali karena sifat aslinya tanpa terlihat lebih dekat. Rasanya agak sedih, tapi apa yang bisa kau lakukan? Waktu terus berjalan.

Aku mengangkat tanganku dari batang pohon dan bertanya, "Jadi, ada apa?"

Tentu saja Satoshi tidak mengajakku jalan-jalan hanya untuk menikmati suasana malam.

Tentu, persahabatan kami telah berlangsung lama, tapi tidak begitu dalam. Kami jarang membuat keluar selama akhir pekan, dan saat kami pulang bersama, biasanya hanya karena kami selesai di sekolah pada saat bersamaan. Fakta kalau Satoshi sudah memanggilku seperti ini hampir pasti berarti bahwa dia memiliki sesuatu yang perlu dia bicarakan, dan tidak hanya itu, itu juga berarti terlalu mendesak untuk menunda sampai besok atau terlalu rahasia untuk dibicarakan di sekolah.

Satoshi yang aku kenal sering bertele-tele, tapi malam ini, bukan itu masalahnya.

"Aku sedang dalam situasi sulit," katanya saat ia mulai berjalan sekali lagi.

"Aku tidak mau terlibat dengan masalah."

"Masalah, huh? Paling tidak, aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa aku sedang berada di tempat yang merepotkan, tapi bagian yang paling menyulitkan bagiku adalah kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan situasiku."

Karena tidak bisa memahami dengan tepat apa yang ingin dia katakan, aku sedikit mengerutkan kening. Dia mengangkat bahunya dan melanjutkan.

"Dengan kata lain, masalah bagiku adalah bahwa aku harus meminta bantuanmu, Houtarou, bahkan walaupun aku benar-benar tidak punya sedikitpun kesempatan."

"Aku mengerti. Jika aku mengikuti permintaanmu—"

"—itu akan bertentangan dengan mottomu, 'Jika kau tidak harus melakukannya, aku tidak akan melakukannya. '"

Apa yang Satoshi katakan itu benar pada prinsipnya, tapi aku sudah buru-buru untuk menyelesaikan yakisoba-ku untuk bertemu dengannya di kota. Seandainya aku berniat menolaknya tanpa mendengarkan ceritanya yang tidak ada hubungannya denganku, mungkin aku sudah mencuci wajan yang tertutup saus sekarang juga di rumah.

"Yah, paling tidak kau bisa memberitahuku apa yang terjadi." Satoshi mengangguk. "Kamu terlalu baik padaku. Kau ingat bahwa pemilihan ketua OSIS
diadakan hari ini, bukan?"

"Yeah..."

Meski itu sudah terjadi berjam-jam lalu, aku sudah lupa. Setelah sekolah berakhir, kami memberikan suara kami untuk ketua OSIS berikutnya sebagai pengganti ketua OSIS yang sebelumnya, Muneyoshi Kugayama.

Di SMA Kamiyama, periode pemilihan ini direncanakan berlangsung selama seminggu. Selama periode tersebut, para kandidat memasang poster di seluruh tempat sekolah, membuat program kerja mereka untuk sekolah, dan saling berdebat mengenai visi misi mereka melalui klub radio. Semua itu mendekati puncaknya kemarin, dan hari ini adalah saat kami memberikan suara.

"Apa kau ingat para kandidatnya?"

Aku memeras pikiranku untuk menjawab pertanyaan Satoshi. "Ada dua... tidak, tiga orang aku."

Dia kembali tersenyum sedih.

"Aku menanyakan namanya, tapi memikirkan kau bahkan tidak ingat berapa banyak orang yang ikut. Jawaban yang benar adalah dua, meskipun aku rasa kau harus memperhatikannya. Sekolah kitu penuh sesak dengan klub-klub aneh, namun ketua OSIS tidak benar-benar menonjol."

"Itu benar. Kedua kandidatnya murid kelas dua, juga."

"Kau mengingatnya, huh? Sudah wajar mereka kelas dua. Murid kelas satu baru saja masuk di sini pada bulan April, dan para senior akan sibuk melakukan tes sekarang."

Kurasa mendengar alasannya itu membuatnya cukup jelas.

"Itu adalah pertarungan antara Haruto Obata dari Kelas D dan Seiichirou Tsunemitsu dari Kelas E. Kau mungkin berpikir semuanya berakhir setelah pemungutan suara, tapi sebenarnya aku adalah salah satu orang yang menghitung suaranya."

Aku tidak begitu tertarik dengan bagaimana pemilihan ketua OSIS SMA Kamiyama bekerja dari balik layar, namun pernyataannya pasti membuatku penasaran. Satoshi Fukube terlibat dalam berbagai klub dan kelompok, hanya untuk semua masalah itu. Secara khusus, dia adalah anggota Klub Klasik dan Kerajinan dan sudah terlibat dengan komite umum sejak dia menjadi masih murid baru, sekarang, bahkan dengan begitu saja menjabat sebagai wakil ketua. Tidak peduli betapa tidak disentuhnya aku dengan organisasi di sekolah kami, aku pun ingat bahwa ada komite administrasi pemilihan juga.

"Apa yang terjadi dengan pemilihannya?" Aku bertanya.

Saat aku menanyakannya, Satoshi tersenyum. "Tentu saja, komite administrasi pemilihan adalah yang bertanggung jawab atas kotak suara dan penghitungan suara. Aku bertanggung jawab atas pengawasannya. Di antara peraturan sekolah yang mengatur pemilihan sekolah, ada peraturan yang menyebutkan bahwa setidaknya ada dua siswa yang mengawasi proses penghitungan suara. Aturan tersebut mengatakan bahwa satu-satunya kualifikasi yang harus dipenuhi untuk pekerjaan ini bukanlah menjadi salah satu kandidat atau dalam komite pemilihan. Jadi biasanya, kau biasa bisa mengajukan diri untuk membantu. Namun, sekarang menjadi kebiasaan untuk mendelegasikan tugas itu kepada ketua dan wakil ketua komite umum. Kurasa akan sangat merepotkan jika harus mencari orang untuk melakukannya setiap saat. "

Meski dia menjelaskannya dengan begitu lancar untukku, justru itu karena kurangnya keraguan yang membuatnya begitu mencurigakan. Ini Satoshi yang kita bicarakan, lagipula

... Seakan menyadari keraguanku, dia segera melanjutkan.

"Aku serius! Aku tidak berbohong. Tidak sedikitpun!" Dia berkeras berulang kali.

"Baik, baik. Jadi?"

"Ada masalah dengan hitungannya."

Aku mengerti.

"Saat ini, SMA Kamiyama punya 1.049 siswa, dengan begitu, ada 1.049 pemilih sah." Ketika aku pertama kali mendaftar, ada 350 siswa baru terbelah di antara delapan kelas, jadi jumlah Satoshi tampak cukup masuk akal jika kau menghitung ketiga ketiga tersebut.

Dia mendesah. "Jadi, kami menjumlahkan suaranya... dan kami menyadari kalau ada 1085
suara."

"Bagaimana bisa…?"

Itu tergelincir dari mulutku sebelum aku menyadarinya. aku akan memahaminya jika ada lebih sedikit suara daripada siswa yang ada. Beberapa dari mereka mungkin sudah tidak masuk. Tapi lebih banyak? Satoshi mengangguk dengan serius.

"Aku tidak tahu. Dengan mempertimbangkan murid-murid yang tidak hadir, orang-orang yang datang lebih awal, dan mereka yang tidak ingin memilih, aku tidak akan terlalu peduli jika jumlah suara tidak seberapa, tapi jika jumlahnya lebih dari batas yang mungkin , kau tidak bisa menyebut itu hanya dengan kesalahan sederhana."

Dia berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan.

"Seseorang melakukan ini karena dendam."

Aku tidak mengatakan apapun untuk membalasnya. Seperti yang Satoshi katakan, menilai hanya dengan informasi yang aku miliki saat ini, aku
merasa sulit untuk percaya bahwa situasi ini terjadi karena kesalahan sederhana. Mengatakan bahwa itu karena dendam memang sepertinya sedikit di luar jangkauan, dan mungkin itu adalah lelucon impulsif atau semacamnya. Yang tampak pasti, bagaimanapun, seseorang sudah menambah suaranya.


"Kenyataannya, penghitungan terakhir menunjukkan bahwa perbedaan suara sangat terkait dengan jumlah suara kosong, dan jika yang tidak sah itu kosong, maka itu tentu saja berarti hasilnya tidak akan berubah. Masalahnya adalah tidak ada ruang gerak dengan ini— Jika terbukti ada sesuatu yang bertentangan dengan peraturan, panitia administrasi pemilihan harus mengadakan pemilihan ukangn. Aku tidak terlalu peduli dengan suara yang tidak sah...

Meskipun aku bahkan tidak bisa mulai memahami alasan pelakunya untuk melakukan ini, aku ragu bahkan aku akan bisa mengetahui siapa yang melakukannya pada akhirnya. Yang harus aku pikirkan adalah bagaimana dia bisa memberikan suara tersebut sejak awal."

"..."

"Bagian yang paling menyulitkan adalah karena pengelolaan surat suara resmi begitu setengah-setengah, siapa pun bisa membuat yang baru. Semua yang harus kau lakukan, lagipula, menandai kertas itu dengan stempel resmi, dan kau bisa menemukannya tergeletak di ruang OSIS. Tapi bagaimana mereka bisa menyelipkan surat suara itu dengan yang lainnya? Ada lubang di suatu tempat dalam proses pemilihan ketua OSIS SMA Kamiyama. Selama kita terus membiarkannya terbongkar, hal semacam ini akan terus berlanjut, dan sebaliknya, bahkan jika pemilihan nanti berhasil berlalu tanpa hambatan, kita tidak akan pernah bisa memastikan bahwa tidak ada pemungutan suara tidak sah dimasukan di suatu tempat."

"Masuk akal."

"Aku sudah banyak memikirkannya, tapi aku menemui jalan buntu ke mana pun aku pergi. Itu sebabnya, meski aku tidak mau, aku menelponmu, Houtarou."


Satoshi berhenti.

Jika hanya itu yang akan dia katakan, maka saku cukup mengerti inti situasi. Aku menggaruk kepalaku dan menatap bulan mengintip melalui awan sebelum menjatuhkan pandanganku ke kakiku.

"Tampaknya aku harus pulang sekarang," kataku.

Jalan kecil itu terus lurus sepanjang sungai dan melewati dua jembatan. Kami menuju ke hulu, tapi seberapa jauh terus seperti itu? Kurasa sudah terlambat untuk berpetualang mencari sumbernya.

"Kau pulang..." katanya, terdengar seolah hampir seperti yang dia bayangkan, "Aku rasa memintamu lebih banyak terlalu berlebihan."

Bukannya aku pikir dia meminta terlalu banyak; satu-satunya masalah adalah bahwa dia telah melakukan kesalahan. Aku yakin dia benar-benar sadar akan hal itu tapi ingin mengatakannya.

"Yah, terkadang memberi tahu orang lain hal yang diperlukan untuk membantu dirimu memahaminya dengan lebih baik, jadi aku sama sekali tidak keberatan mendengarkannya. Aku akan sangat menghargai jika kau bisa menyimpannya besok. Aku punya piring kotor yang menunggu aku pulang ke rumah, dan jika aku tidak mengurusnya segera, seluruh rumah akan berakhir berbau seperti saus."

"Itu mungkin sudah terlalu terlambat." Dia benar. Aku seharus membuka semua jendelanya saat aku pulang.

Sebuah cahaya mendekati kita dari depan. Itu adalah sepeda yang menuju ke arah yang berlawanan. Sampai melewati kami, tak satu pun dari kami membuka mulut.

Satoshi akhirnya memecahkan kesunyiannya.

"Besok tidak bisa. Aku membutuhkannya besok pagi."

"Mengingat bahwa kau perlu memampang hasilnya paling lambat hari ini, aku rasa aku bisa mengerti. Walaupun itu seharusnya menjadi tugas panitia."

Sebuah desahan kecil keluar dari bibirku, dan aku melanjutkan.

"Aku tahu kau bergabung klub Kerajinan dan komite umum untuk—sesuatu yang aku sendiri tidak bisa mengerti untuk hidupku—Tapi aku sedikit terkejut saat aku mendengarmu menjadi wakil ketuanya. Aku pikir kau melakukannya untuk bersenang-senang, jadi aku tidak pernah membayangkan kalau kau akan menerima posisi inti seperti itu. Apa sesuatu mengubah pikiranmu?"

"Yeah... Aku rasa kau bisa mengatakannya begitu."

"Aku mengerti. Aku tidak yakin apakah aku harus mengucapkan selamat padamu atau tidak, tapi selain itu, hanya karena kau telah mengambil peran yang penuh dengan tanggung jawab seperti itu tidak berarti aku juga ingin terlibat dalam masalah apa pun. Atau apakah kau mengatakan bahwa itu adalah kewajibanku sebagai siswa di sekolah kita untuk membantu menjaga kesehatan sistem pemilihannya?"

Dia membalas dengan senyuman pahit.

"Aku tidak akan pernah bisa mengatakan sesuatu yang totaliter seperti itu ... Seseorang sepertiku jauh lebih cocok sebagai birokrasi."

"Aku akan bilang begitu. Jalan-jalan malam hari tentu saja merupakan tempat yang menarik untuk bercakap-cakap dengan Satoshi Fukube, tapi jika itu untuk konsultasi dengan wakil ketua komite umum, serahkan itu pada ruang panitia."

Satoshi sepertinya tidak terlalu mengacak-acak jawabanku, tapi membalasnya dengan sedikit tanda kesepian, yang belum tentu bercanda.

"Kau sungguh tidak berbasa-basi, bukan."

Memang benar aku mungkin sudah terlalu kasar, tapi Satoshi sendiri yang harus disalahkan. Jika dia menolak untuk berbicara denganku tanpa memandangku, maka aku tidak punya pilihan selain membalasnya dengan—menolak tanggungjawabnya.

Ketika aku menyimpulkan teoriku, aku meliriknya dari sudut mataku dan mulai berbicara.

"Jadi? Apa yang kau sembunyikan?"

"Sembunyikan? Apa maksudmu? Mengesampingkan cerita Satoshi tentang perolehan suara yang meningkat secara misterius, dua hal tidak bertambah. Poin pertama adalah apa yang aku sebutkan sebelumnya: yaitu, mengapa dia mendatangiku untuk meminta bantuan? Poin kedua, akan tetapi, bahkan lebih
mendasar

"Jangan pura-pura bodoh. Keseluruhannya harus menjadi masalah panitia pemilihan. Memikirkan hal itu ... Kau seharusnya tidak ada hubungannya dengan hal itu, Tuan Wakil Ketua Komite Umum."

Menurut cerita Satoshi, ketua komite dan wakil ktua umumnya tidak lebih dari sekadar mengawasi pemilihan. Suara tidak sah tentu saja merupakan masalah besar, tapi mengapa Satoshi yang mencoba menyelesaikannya? Dia tetap diam tentang hal ini.

Untuk berpikir bahwa Satoshi, yang memproklamirkan diri sebagai wakil birokrat, akan bangkit dari jabatannya dan dengan hati-hati mencoba dan mengungkap masalah yang mengganggu sistem pemilihan demi keadilan ... Aku menolak untuk mempercayainya. Aku kira secara teoritis mungkin bahwa dia telah turun tangan sebagai anggota komite umum untuk mengatasi pembatasan yang menahan komite pemilihan, tapi aku sudah siap untuk mengacaukan khayalan tersebut dan membuangnya bersama anggota komite lainnya. Satoshi sendiri mengatakan bahwa, sejak siswa kelas dua, dia sudah berubah, tapi aku merasa tidak mungkin menerima bahwa itu adalah perubahan yang drastis dan mendasar. Karena itulah saat dia, seseorang yang selalu bercanda tapi tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun, meneleponku malam hari untuk meminta pertolongan, aku tahu masih ada cerita yang lebih banyak.

"Apa yang aku katakan kau menyembunyikan alasan kenapa kau sendiri ingin memecahkan misterinya."

Satoshi tersenyum lemah.

"Aku tidak bisa menang ketika berhadapan denganmu."

Aku tersenyum juga.

"Aku senang kau sudah menyesuaikan diri dengan hal itu. Kau bahkan tidak seharusnya terkejut saat ini."

"Aku rasa begitu. Kupikir aku bisa menyembunyikannya darimu, tapi tampaknya mustahil."

Satoshi melompat beberapa langkah di depanku seakan menari mengikuti irama dan kemudian berbalik menghadapku, berjalan mundur saat dia berbicara.

"Maaf aku tidak memberitahumu semuanya sejak awal, Houtarou, bahkan walaupun aku aku datang meminta bantuan padamu. Aku tidak menyalahkanmu karena marah. Itu bukanlah sesuatu yang benar-benar butuh aku sembunyikan, tapi kau tahu..."

Meskipun aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, kita sudah lama saling kenal sejak lama. Semenjengkelkan seperti itu, aku punya perasaan aku merah.


"Ketua komite administrasi—bagaimana aku mengatakannya—bukanlah jenis orang yang cenderung disukai orang lain," kata Satoshi sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

"Dia bertingkah so berkuasa, mengingat dia ada di komite SMA, kau tahu? Aku tidak begitu yakin bagaimana cara mengatakannya... Dia adalah tipe pria yang tidak puas tanpa mengatakan kepada seseorang untuk 'berhenti main-main', bahkan jika mereka bekerja keras seperti biasanya. Ucapan favoritnya adalah: 'Jangan menentukan segalanya untuk dirimu sendiri' dan 'cari tahu sendiri;' Kudengar mereka sudah lima kali, hari ini."

Aku tahu ada orang seperti itu, tapi ini adalah pertama kalinya aku mendengar ada seseorang seperti itu yang seusiaku. Jika deskripsinya benar-benar akurat, aku membayangkan dia adalah skenario terburuk bagi seseorang seperti yang dihadapi Satoshi. Dia melanjutkan.

"Walaupun, kau benar, Houtarou. Aku tidak punya hubungan dengan dirinya."

"Yang berarti... tampaknya orang lain sudah terlibat."

"Tajam seperti biasa."

Satoshi memberiku sebuah jempol.

"Dia adalah anggota dari siswa baru komite administrasi pemilihan, dari Kelas E. Aku tidak ingat namanya. Mungkin aku pernah mendengarnya di suatu tempat, tapi aku tidak ingat. Dia adalah anak yang benar-benar energik, yang selalu mengatakan 'Siap laksanakan!' ketika seseorang memintanya untuk melakukan sesuatu. Aku tidak berpikir kami akan akrab, tapi aku bilang dia selalu melakukan apa yang seharusnya... yah... mencoba begitu, setidaknya. Dia cukup pendek; terlihat seperti siswa SMP."

"Aku bisa melihat kemana ini perginya."

"Sungguh? Yah paling tidak dengarkan aku sampai akhir. Untuk satu atau dua alasan lain—
mungkin dia benar-benar efisien atau kelasnya bekerja keras untuk menyelesaikannya
dengan segera— Dia adalah orang pertama yang sampai ke area penghitungan suara di
ruang OSIS. Setelah dia sampai di sana—dan jika kau menanyakanku itu adalah salah
ketua—dia mengacaukan prosedur yang seharusnya."

Satoshi meletakkan tangannya di depannya dan memberi isyarat seolah memegang kotak
tak kasat mata.

"Kau mungkin sudah tahu ini, mengingat kau memilih juga, tapi dalam pemilihan SMA
Kamiyama, setiap orang memberi suara mereka dengan menempatkan surat suara mereka
ke dalam kotak suara yang ditentukan. Kotak-kotak itu kemudian dibawa ke ruang OSIS
dan—dan ini adalah bagian penting—dibuka di depan para pengawas. Tuan Class 1-E
membuka kotak itu sebelum para pengawas datang dan menyebarkan suara di tengah
meja."

Aku berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Tapi kupikir itu bukan masalah besar..."

"Aku juga. Tugas tunggal pengawas adalah memastikan bahwa kotak-kotak itu benar-benar
kosong terlebih dahulu, sebelum membawanya ke ruang kelas untuk memilih dan kemudian
setelah mengeluarkan suaranya, sebelum penghitungan dimulai. Aku memastikan bahwa
kotak Tuan Class 1-E, faktannya, kosong, jadi pada kenyataannya, kau dapat membantah
bahwa kami benar-benar mengikuti protokolnya. Namun ketua panitia pemilihan bersikeras
bahwa tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti bahwa dia tidak mencairkan suara
sementara para pengawas tidak hadir."

Aku mengerti.

"Mengesampingkan kesalahan yang dilakukan dalam prosedur ini, aku benar-benar sulit
percaya bahwa dia adalah pelakunya," kataku.

"Semua orang merasakan hal yang sama. Bahkan aku pun begitu. Tapi ternyata ketua
panitia pemilihan tidak. Segala sesuatu berjalan sesuai prosedur, jadi tidak ada kesempatan
bagi seseorang untuk mencampur suara yang tidak sah dengan yang lainnya. Karena itulah
dia memutuskan bahwa kesalahan itu mungkin tidak mungkin ada pada orang lain, dan
tentu saja, secara lisan menyerang siswa baru itu."

Satoshi tiba-tiba berhenti sebentar dan kemudian menambahkan satu hal lagi dengan
lembut.

"Siswa baru itu menangis, kau tahu."

Jadi begitu...

Apa yang jadi hal penting adalah: Satoshi ingin membuktikan bahwa ada kemungkinan lain
untuk mencampur suara yang tidak sah dengan sisanya, walaupun tidak ada yang
memintanya, semua demi seorang junior tanpa nama yang telah dianiaya secara verbal jauh
melampaui jumlah yang dibenarkan karena kesalahan kecilnya.

Benar-benar terkejut, aku hanya bisa menawarkan ini sebagai tanggapan:
"Aku bersumpah... kau tidak pernah berubah, bukan? Selalu bermain sebagai pahlawan di
balik bayangan."

Dia kembali tersenyum ragu.

"Yang benar saja, aku hanya sedikit marah. Terlebih, jika kau tidak keberatan aku membuat
alasan, bukannya aku merasa sangat dibutuhkan untuk mengandalkan kemampuanmu.
Kupikir sudah cukup sederhana bagiku untuk menangani sendiri, tapi aku salah. Ternyata
pemilihan kita secara mengejutkan sangat mudah dilakukan."

"Bukankah kita punya percakapan yang mirip terakhir kali kita pergi keluar malam hari
seperti ini?"

"Yeah... Itu saat tahun terakhir SMP kita, jika aku mengingatnya dengan benar. Sungguh, itu
mengingatkan masa itu lagi."

Aku menatap Fukube Satoshi. Secara keseluruhan ia tampak lemah dan agak tidak dapat
diandalkan, namun ekspresinya sendiri penuh dengan percayaan diri—sama seperti Satoshi
yang selalu aku tahu.

Dia tidak terlalu baik atau lembut, dan dia juga tidak memiliki integritas yang kuat. Menurut
pendapatku, bagaimanapun, apa yang dia miliki, bahkan jika itu tidak muncul di wajahnya,
lebih kuat dibanding kebencian biasa dari orang-orang tidak adil. Bahkan untuk hal-hal yang
aku anggap sebagai "Yah, itulah hidup," dia akan mengerutkan alisnya dan melakukan
segalanya dengan kekuatannya untuk memperbaiki apa yang ada dalam jangkauannya.

Selain itu, aku kira aku bisa mengerti maksudnya. Bukannya dia menyuruhku untuk
mengetahuinya sebagai bagian dari beberapa penyelidikan untuk membantu
mengembalikan komite umum dan pemilihan Kamiyama ke keadaan normal, namun, dia
memintaku untuk membantunya memberikan ketua panitia pemilihan yang baik demi
seorang siswa baru yang menangis.

Bagian dari diriku sedikit kesal penasaran mengapa dia tidak mengatakannya sejak awal.

Sebuah hembusan angin berhembus menerobos kota.



3.

Jalan setapak mengikuti sungai berakhir melawan pagar kayu yang mengelilingi rumah
hunian dan berbelok ke kanan yang tajam. Kami terus mengikutinya dan akhirnya sampai di
persimpangan tiga arah yang kecil. Jalan yang membentang ke kiri dan kanan memiliki jalur
lalu lintas yang mengalir di tengah, tidak seperti yang kami jalani sampai saat itu, dan
seluruh bentangan itu terang diterangi oleh lampu jalan. Biasanya aku tidak berkeliling
daerah ini, tapi jika ingatanku memang benar, jika kau pergi ke arah kanan dan melanjutkan
melalui distrik perumahan, kau akan menemukan SMP Kaburaya lamaku. Jika kau pergi ke
arah kiri dan melanjutkan ke arah itu, kau akhirnya akan sampai di pusat kota.

Kami berhenti berjalan dan Satoshi menatapku seolah bertanya ke arah mana kami harus
pergi. Aku sedikit khawatir seseorang mungkin akan mulai mengajukan pertanyaan jika kami
akhirnya berkeliaran sampai ke pusat kota, namun sebagian dari diriku ragu untuk
mendekati Kaburaya karena alasan tertentu juga. Mungkin ide yang bagus untuk pergi ke
kiri dan kemudian berbelok ke jalan yang berbeda sebelum memasuki area utama. Aku
mulai berjalan dan Satoshi diam mengikutiku.

"Jadi," kataku, memulai kembali percakapannya sekali lagi, "sejauh yang kau tahu, tidak ada
peluang bagi siapa pun untuk mencampuradukkan dalam surat suara yang tidak sah?"

Satoshi tiba-tiba menyeringai dan bergumam yang nyaris tak terdengar "aku benar-benar
minta maaf" sebelum berseru dengan suara biasa dan tidak terpengaruh, "Itu benar! Aku
benar-benar sudah memikirkannya, namun pada akhirnya, aku tidak bisa menemukan
lubang nyata dalam sistem ini, terutama mengingat hal itu sudah sama lama. Jika aku harus
mengatakan dengan pasti ... bukan karena aku tidak menganggapnya sebagai sebuah
kemungkinan, tapi aku merasa bahwa mengejar garis pemikiran itu hanya akan mengarah
ke jalan buntu. "
Aku ingin bertanya kepadanya mengapa dia memikirkannya secara rinci, tapi mengingat
sejak awal aku bahkan tidak tahu bagaimana proses pemilihan ketua OSIS, mungkin aku
tidak akan mengerti alasan dia. Mungkin akan lebih baik jika dia menjelaskan semuanya
sejak awal.

"Mulai dari awal."

"Oke. Dari mana ya sebaiknya..." kata Satoshi, lengannya menyilang dan kepalanya miring
dengan sengaja dalam kontemplasi. "Kedengarannya benar. Untuk memulai, penting untuk
diingat bahwa kotak suara memiliki kunci pada mereka. Juga, seperti yang aku katakan
sebelumnya, pihak ketiga harus memastikan bahwa kotak itu kosong terlebih dahulu
sebelum siswa memberikan suaranya dan kemudian memastikannya lagi sebelum panitia
menghitungnya. "

"Kau bisa memberikan suara meskipun kotak terkunci, bukan?"

"Tentu saja. Itu seharusnya sudah terkunci ketika kau memilih juga."
Kupikir begitu, tapi aku hanya ingin memastikannya.

"Panitia administrasi pemilihan mengambil kotak suara dari tempat penyimpanan dan
membawa mereka ke ruang OSIS kemarin sepulang sekolah. Ruang penyimpanan adalah
tempat di lantai pertama di sisi khusus, jadi aku yakin kau tahu yang mana yang sedang aku
bicarakan. Ini juga memiliki pel, lilin, dan sejenisnya. Lagi pula, kemarin, surat suara kertas
sudah dibundel menjadi tumpukan untuk setiap kelas dengan karet gelang yang
menahannya. Setelah sekolah berakhir pada hari itu, seluruh panitia pemilihan dan
pengawas berkumpul di ruang OSIS, dan anggota yang bertanggung jawab untuk
membagikan semuanya menyerahkan kotak dan surat suara kepada perwakilan masingmasing
kelas.
Aku
yakin
kau
sudah
sadar
akan
hal
ini,
tapi
ada
dua
anggota
panitia

pemilihan—satu
laki-laki
dan
satu
perempuan—di
setiap
kelas.
Itu
berarti
bahwa
di
ruang

OSIS,
ada
dua
anggota
dikali
delapan
kelas
dengan
tiga
kelas—empat
puluh
delapan
siswa—
ditambah dua pengawas untuk total lima puluh siswa, semua dikemas di sana seperti
sekaleng ikan sarden."

"Kedengarannya sempit."

"Begitulah. Setelah mendapatkan kotak suara, mereka menyuruh kami mengkonfirmasi
bahwa masing-masing kosong, dan kemudian anggota komite yang bertanggung jawab atas
kunci tersebut untuk menguncinya. Setelah setiap kotak terkunci, anggota menunggu
dengan mereka saat standby. Setelah selesai untuk semua kotak, ketua panitia memberi
seruan agar masing-masing kembali ke kelas mereka."

Tentu saja, aku sudah melihat kotak dan surat suara. Kotak itu terbuat dari kayu berwarna
kuning tua dan tampak kuat. Kata "kotak suara" ditulis dalam huruf tebal di sampingnya.
Kertas surat suara sepertinya dipotong dari kertas printer sederhana. Yang aku gunakan
sebelumnya hari ini bahkan tidak memiliki sisi yang lurus. Aku ingat ada stempel panitia
administrasi pemilihan, tapi aku rasa tidak ada yang namanya nomor identifikasi untuk
membedakannya dari yang lain.

"Kau tahu apa yang anggota panitia pemilihan lakukan di kelas, bukan?" tanya Satoshi.

"Yeah."

Begitu berada di kelas, para anggota meletakkan kotak suara mereka di meja guru dan
menulis nama kandidat dengan kapur tulis di papan tulis sebelum membagikan kertas surat
suara. Saat masing-masing siswa selesai menuliskan pilihan mereka—apakah itu salah satu
nama kandidat atau tidak sama sekali—mereka berjalan ke depan ruangan dan secara
individu memasukkan surat suara mereka ke dalam kotak. Setiap kali ini terjadi, anggota
panitia pemilihan menarik tanda penghitungan di atas kertas di tangan mereka untuk
mencatat jumlah suara.

Aku tidak benar-benar ingin mengganggu cerita Satoshi, tapi aku harus bertanya padanya
untuk berjaga-jaga.

"Apakah anggota panitia administrasi pemilihan juga harus menghitung jumlah siswa yang
tidak masuk?"

Satoshi menggelengkan kepalanya dan berkata, "Dari apa yang aku dengar, mereka tidak
menghitungnya. Sepertinya, hanya jumlah total siswa dan jumlah suara yang penting."

Aku mengerti. Aku kira beberapa siswa yang tidak datang ke sekolah tidak akan benar-benar
memengaruhi pekerjaan mereka, sekarang aku memikirkannya.

" Aturan menyatakan bahwa setelah tiga puluh menit, para anggota harus memberikan
suaranya sendiri dan kemudian membawa kembali kotak suara ke ruang OSIS, namun
kenyataannya, banyak kelas selesai lebih cepat dari itu. Akan tetapi, begitu semua orang di
kelas selesai, tidak ada lagi yang harus mereka lakukan, sehingga mereka bisa berkemas dan
pergi. Bagian ini tidak sesuai dengan peraturan, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan untuk
mengingat bahwa ini adalah kebiasaan pada saat ini."

Aku kira jika setiap kotak suara dibawa kembali ke ruang OSIS pada saat yang bersamaan, itu
akan memperlambat prosesnya juga.

“Hasilnya, anggota panitia pemlihan berkumpul kembali ke ruangan dan memeriksa kelas
mereka dan kelas yang ada dalam daftar untuk menunjukkan siapa yang sudah kembali.
Orang yang bertanggung jawab atas kunci membuka kotak mereka, dan anggota tersebut
mengosongkan isinya ke atas meja. Ada beberapa meja yang disusun menjadi bentuk salib,
dan kami menggunakannya untuk menghitung suara. Kami tidak harus mengembalikannya
ke tempat penyimpanan sampai besok, jadi tidak ada yang terburu-buru. Begitu pengawas
mengkonfirmasi bahwa kotak itu memang kosong, mereka menempatkannya di sudut
ruangan. Begitu semua surat suara dari setiap kelas ada di atas meja, mereka
mencampuradukkannya sehingga tidak ada yang tahu dari mana kelas itu berasal dan
kemudian membagi-bagikannya di antara sepuluh atau lebih penghitung suara yang
ditunjuk. Orang yang penghitung kemudian menempatkan suara menjadi satu dari tiga sisi—
Dalam kasus ini, ditandai dengan "Haruto Obata," "Seiichirou Tsunemitsu," atau "N/A."
Bagian ini berjalan cukup cepat. Suara tersebut dipotong bersama dalam kelompok dari dua
puluh dan kemudian ditukar dengan sisi lain untuk memastikan apakah penghitungan
dilakukan dengan benar. Setelah kedua sisi selesai memeriksanya, pengawas akan
memverifikasinya juga."

"Itu benar-benar sangat teliti."

"Ya, kan?"

Aku tidak tahu mengapa dia terdengar begitu bangga. Kami benar-benar baru saja selesai
berbicara tentang bagaimana dia tidak ada hubungannya dengan panitia administrasi
pemilihan.

" Setelah melakukan itu, kami menuliskan jumlah total di papan tulis. Dari awal sampai
akhir, semuanya mungkin memakan waktu sekitar empat puluh menit. Sama seperti kami
akan mencatat pemenang, akan tetapi, seseorang menunjukkan bahwa jumlah akhirnya
tampak aneh, dan semuanya setelah itu adalah murni kekacauan."

Kupikir aku mendengar sesuatu seperti geraman mesin yang rendah. Tiba-tiba, sebuah
mobil sport melaju dengan cepat melewati kami di jalan kecil yang sederhana. Satoshi
memelototinya saat ban-bannya berdecit di tikungan dan akhirnya menghela nafas.

" Semua yang aku sudah katakan tadi persis seperti yang terjadi, tapi karena ada begitu
banyak orang yang mengawasi surat suara di atas meja setiap saat, aku tidak bisa
membayangkan bahwa mungkin untuk mengutak-atik sesuatu. Itu berarti suara tidak sah
tidak dimasukan saat penghitungan suara ... Dan itu berarti satu-satunya kemungkinan yang
bisa aku bayangkan adalah bahwa mereka dimasukkan ke kotak suara sejak awal, bukan?"

"Tampaknya seperti itu, tapi—"

"Tapi apa? Aku sudah bilang hal ini kepadamu, tapi ada sekitar empat puluh tiga sampai
empat puluh empat siswa di setiap kelas di SMA Kamiyama. Ada empat puluh suara tidak
sah. Jika pelakunya hanya berfokus untuk memasukannya ke satu kotak, itu hampir dua kali
lipat jumlah yang dibandingkan dengan kelas lainnya. Kami tidak benar-benar fokus pada
jumlah suara yang keluar dari kotak, tapi aku cukup yakin semua orang akan menyadarinya
jika ada dua kali lebih banyak. "

Aku setuju. Akan tetapi, bagaimana kalau tidak dua kali lipat?

Mengingat dia telah memikirkannya sejak pulang sekolah hari ini, Satoshi sudah
mempertimbangkan kemungkinan itu.

" Tidak mungkin semua suara tidak sah berada di dalam satu kotak kelas. Lalu bagaimana
kalau dibagi antara dua kelas? Kami masih mungkin menyadarinya. Tiga kelas juga tampak
agak meragukan. Jika dibagi dalam sepuluh kelas, maka masing-masing kelas akan sampai
dengan empat suara. Itu mungkin tidak bisa disadari.”

" Itu mungkin benar, tapi itu kemudian menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana
seseorang bisa menemukan kesempatan untuk menyelipkan suara tidak sah ke dalam
sepuluh kotak suara."

"Yeah," Satoshi mengatakannya saat mengangguk. Dia kemudian menambahkan dengan
ekspresi tidak tertarik, "Meskipun, sejujurnya, aku cukup yakin pelakunya ada di panitia
administrasi pemilihan."

"Aku pikir kau hanya ingin membantu siswa kelas E itu."

"Aku tidak berpikir pelakunya itu dia. Hanya saja aku tidak bisa membayangkan itu terjadi
dengan cara lain. Hanya panitia pemilihan yang menangani kotak suaranya."

Memang benar bahwa anggota panitia memindahkan kotak-kotak itu, jadi akan mudah bagi
mereka untuk diam-diam menjatuhkan beberapa suara, tapi...

"Jadi menurut teorimu, Satoshi, beberapa anggota panitia administrasi pemilihan berkolusi
satu sama lain untuk menambahkan suara tidak sah dengan masing-masing memasukkan
sedikit demi sedikit? Yakinkah itu bukan di luar wilayah kemungkinan, tapi apakah kau
benar-benar percaya itulah yang terjadi?"

"Itulah sebabnya aku bilang bahwa garis pemikiran itu menyebabkan jalan buntu. Satu atau
dua anggota itu wajar, tapi aku merasa tidak mungkin membayangkan sembilan atau
sepuluh orang terlibat dalam hal ini."

Setelah mengatakan itu, Satoshi bertepuk tangan dan melanjutkan.

"Jadi intinya, aku tidak tahu ke mana harus melanjutkannya dari sini. Tidak ada jaminan
bahwa seseorang menggunakan trik untuk melakukannya, tapi jika kita berasumsi ada, aku
tidak punya pilihan lain selain mengetahuinya, untuk mengkonfirmasi keberadaan bayangan
yang ada di dalam panitia pemilihan. Jika kita asumsikan tidak ada, maka kita tidak memiliki
cara lain untuk mencari tahu di mana dan bagaimana suara menjadi sangat janggal. Kita
sudah sampai besok pagi, tapi malam ini, aku ingin memulai dari awal dan memasukkan
situasi ini ke jalan yang benar. Lagi pula, karena aku tidak punya orang lain untuk berpaling,
aku akhirnya menghubungimu, Houtarou."



4.

Lampu-lampu merah menerangi malam kota di depan kami. Satoshi dan aku berhenti
berjalan pada saat yang bersamaan, dan kami sejenak kehilangan jejak percakapan kami
saat mata kami tertahan oleh cahaya hangat. Rasanya hampir seolah ada sesuatu yang asing
tercampur dengan angin; Mungkin itu hanya khayalan dari imajinasiku. Saat dia terus
menatap lampu, dia tiba-tiba mulai berbicara, kepalanya tidak bergerak sedikit pun.

"Kau lapar?"

Tanpa berkata-kata aku menatap lampion kertas merah, dengan kata "Ramen" yang ditulis
hitam di sisinya.

Bahkan tak terlintas dalam pikiranku bahwa mungkin ada jebakan di tempat seperti ini, yang
masih jauh dari pusat kota. Wahai anak-anak baik, larilah dengan cepat ke tempat tidurmu
sekarang dan mimpikan mimpi indah untuk sang malam di Kota Kamiyama yang gelap dan
penuh dengan teror.

"Kita seharusnya tidak menyerah pada iblis."

"Benar... Hal jahat itu tidak baik."

Tiga menit kemudian, kami berdua berdampingan dibalik meja sempit. Satu-satunya hal di
menu adalah chashu biasa, dan ramen pangsit, juga gyoza, nasi, dan bir. Aku memesan
ramen biasa, berkata, "Aku tidak benar-benar makan malam yang normal," untuk
membenarkannya, dan Satoshi memesan ramen pangsit dan semangkuk nasi. Pemilik toko
memiliki dada yang tebal dan wajah dengan warna amplas, dan ada handuk yang diikatkan
di kepalanya. Saat kami memberikan pesanan kami, dia menjawab dengan suara
menggelegar yang tampaknya berasal dari perutnya, "Siap segera!"

Minyak sepertinya meresap ke seluruh bagian dalam toko kecil itu, dan kertas dindingnya,
yang biasanya berwarna putih, juga berwarna kuning. Hanya usia yang mungkin
menyebabkannya, bagaimanapun, itu juga bukan karena kurangnya kebersihan. Ada juga
pelanggan lain, tapi dia melewati kami saat berjalan keluar, jadi kami berdua adalah satusatunya
orang
di
sini.
Aku
mengesap
air
dingin
dari
cangkir
di
depanku
dan
tiba-tiba

mengeluarkan
hembusan
kecil.
Aku
tahu
kita
sydah
berjalan-jalan
di
musim
panas
di
tempat

yang
panas,
tapi
aku
tidak
menyadari
bahwa
aku
sehaus
ini.

"Apa kau pernah ke sini sebelumnya, Houtarou?" tanya Satoshi, yang sudah bermain-main
dengan penggiling lada karena ia tidak memiliki hal lain yang harus dilakukan.

"Tidak. Kau?"

"Nggak. Ini pertama kali aku ke sini. Aku sama sekali tidak tahu ada yang seperti ini di sini.
Hanya saja kau masuk ke toko dengan sangat percaya diri ... Aku yakin kau langganan di
sini."

"Kau sangat cepat saat kau bilang kalau kita harus masuk... Aku yakin kau selalu datang ke
sini."

Mungkin mendengar percakapan kami, pemiliknya menanggapi dengan suara tinggi, "Ayo,
kalian berdua tidak akan menyesal.”

Saat aku melamun, dengan samar menyadari suara dengungan ringan dari kipas ventilasi
yang terpasang di meja kasir, Satoshi mulai mengeluh pada dirinya sendiri.

"Aku tidak peduli dengan pelakunya... tapi aku ingin tahu kenapa dia melakukannya."

"Siapa yang tahu."

" Ketua bahkan sama sekali tidak melakukan apapun. Yang dia cukup banyak lakukan adalah
berbicara sebagai perwakilan siswa. Aku akan mengerti jika pelakunya marah pada
pemilihannya karena dia menginginkan perubahan pada peraturan sekolah, namun apa dia
pikir dapatkan dengan mengacaukan prosesnya?”

Satu-satunya cara untuk mengetahuinya mungkin adalah bertanya pada orang itu sendiri.
Dengan kata lain...

"Jika kau keberatan dengan tebakan, aku punya beberapa" kataku.

"Mari kita dengarkan."

" Dia suka pemilihan, jadi dia ingin melakukannya lagi."

"Sungguh menarik."

" Dia membenci pemilihan, jadi dia ingin melihatnya terbakar."

"Aku mengerti."

"Menurutnya otonomi siswa adalah sebuah lelucon dan ingin mengajukan pertanyaan
tentang relevansi pemilihan ke badan siswa."

"Terorisme, huh?"

"Calon yang dia dukung tidak cukup persiapan, jadi dia ingin mengulur waktu untuknya."

"Batas waktu untuk itu sudah lewat, jadi itu tidak mungkin."

"Dia tidak menyukai ketua panitia pemilihan, jadi dia mengacaukan pemilihannya untuk bisa
melihatnya panik."

Satoshi mencibir."Bagian yang menakutkan adalah aku tidak bisa benar-benar
mengatasinya. Bagaimanapun, aku kira kita tidak tahu motifnya. Terorisme memang
memiliki pesona tersendiri."

"Itu bisa juga jadi pesona cinta juga."

Pemilik mengeluarkan seikat chashu dari kulkas, sangat mengejutkan mengingat ukuran
toko yang sempit itu. Dia mengeluarkan pisau dapur dan berkata, "Pelayanan khusus untuk
para siswa. "Kurasa dia berencana memberi kami tambahan, aku tidak sabar menunggu.

Aku dengan tiba-tiba bertanya sesuatu yang ada di pikiranku.

"Kau bilang ada empat puluh delapan anggota di pantia pemilihan, benar?"

Satoshi mengembalikan penggiling lada ke rak, meletakkan pipinya di tangannya, dan
membalas, "Yeah. Tiga kelas dengan masing-masing delapan kelas tiap kelasnya, dan dua
dari salah satunya adalah kelas mereka."

"Namun, kau juga mengatakan kepadaku kalau hanya sepuluh siswa yang melakukan
penghitungannya."

Satoshi berputar di kursi bar untuk menghadap padaku sedikit.

"Bahkan dengan sepuluh penghitung, itu hanya sekitar 100 suara per orang, jadi sangat
mungkin. Selain itu, proses penghitungannya memakan banyak ruang. Jika kita semua
melakukannya, kita butuh ruang olahraga."

"Bagaimana itu diputuskan siapa penghitungnya?"

"Um..." Dia menyilangkan tangannya dan bergumam. " Dalam empat puluh delapan
anggota, setengah dari mereka adalah pembawa kotak. Mereka membawa kotak suara ke
ruang kelas dan membawanya kembali bersama mereka saat pemungutan suara berakhir.
Pekerjaan mereka berakhir setelah mereka membuka kotak dan mencampurkan suaranya,
sehingga kebanyakan dari mereka pulang saat semuanya berakhir."

"Mereka tidak tetap tinggal dan mengawasinya?"

"Beberapa dari mereka melakukannya. Siswa baru kelas 1-E adalah salah satu anggota yang
ikut, tapi itu tidak seperti yang wajib dilakukan oleh mereka."

"Kau bilang ada juga anggota yang bertanggung jawab atas kunci dan distribusi kotak
suaranya?"

"Dua orang mengurus distribusi kotak suaranya. Seperti yang aku katakan tadi, itu termasuk
orang yang bertugas mendistribusikan kertas surat suara."

"Apa kotak-kotaknya sudah ditetapkan ke kelas mana sejak awal?"
[TL/N : Errr... Lupa buat ngejelasin, maksudnya perbedaan “kelas” yang di garis miring di sini
itu “grade” sama “class”. Grade lebih ke kelas 1, 2 atau 3 (tahunnya). Dan kelas yang tidak
digaring itu “class” yang lebih ke A,B,C,D dst.]

"Tidak, kotak-kotak itu masing-masing diserahkan kepada siapa pun yang paling dekat.
Namun, surat suara kertas berbeda. Para siswanya mengumumkan kelas mereka berada dan
kemudian menerima tumpukan mereka masing-masing."

Di SMA Kamiyama, ada sekitar 43 sampai 44 siswa dalam satu kelas, meski tentu saja
jumlahnya tidak selalu konsisten. Punya terlalu banyak atau tidak cukupnya surat suara
menjadi perhatian kedua, jadi mungkin mereka menghitung jumlah siswa di masing-masing
kelas sebelumnya. Tentu, akan ada terlalu banyak surat suara karena siswa yang tidak
masuk atau sudah pulang lebih awal, tapi kelebihan suara itu sendiri tidak ada kaitannya
dengan masalah suara tidak sah karena jumlah total suara melebihi jumlah siswa yang
seharusnya.

"Apakah itu juga pekerjaan distributor kotak untuk membuat surat suaranya?"

Satoshi memiringkan kepalanya sambil berpikir.

"Yang aku lakukan hanya mengawasi proses hari ini, jadi aku tidak tahu. Yang bisa aku
katakan, bagaimanapun, tidak mungkin hanya satu orang bisa menghasilkan lebih dari
seribu surat suara. Aku membayangkan ada sejumlah orang yang memisahkan
pekerjaannya. Mereka memotong kertas suaranya dan menandainya dengan stempel ketua
panitia pemilihan."

"Stempel itu yang itu yang jadi masalahnya. Suara yang tak sah juga memilikinya."

"Benar. Seperti yang aku bilang di awal, itu akan mudah untuk memalsukan surat suaranya."

Satu-satunya alasan mengapa seluruh bencana ini menjadi tentang suara yang tidak sah ini
sejak awal adalah karena mereka memiliki cap ketua OSISnya. Seandainya tidak ada suara
yang tercampur, mereka akan diterima secara acak, sebagai benda asing. Itu dibutuhkan
membuat suara tidak sah sebelumnya, jadi jika aku memikirkan pelakunya dalam hal ini, aku
mungkin bisa menemukan sesuatu.

—Inilah yang ingin diketahui Satoshi. Untuk mengembalikan martabat John Doe Kelas 1-E,
dia tidak ingin mengetahui nama pelakunya; dia ingin tahu bagaimana suara tidak sah itu
tercampur dengan yang lainnya. Tentu saja, tidak perlu dikatakan kalau mengetahui siapa
pelakunya akan ideal, tapi kami tidak punya daftar nama atau otoritas untuk
mendapatkannya. Cara paling rasional untuk melakukan ini sepertinya tidak berusaha
melakukan hal yang tidak mungkin.

"Bagaimana dengan orang-orang yang ditugaskan dengan kuncinya?"

" Hanya ada satu kunci, jadi hanya satu orang. Dia menutup semua 24 kunci sebelum
pemilihan dan membuka semuanya setelahnya.”

"Terdengar dia punya banyak waktu senggang."

"Iya. Mungkin itu pekerjaan sempurna untukmu, Houtarou."

Aku bertanya-tanya tentang itu. Pekerjaan semacam itu membuatmu menunggu siaga untuk
waktu yang terlalu lama, karena sangat sedikit yang harus dilakukan, dan terlebih, ada
banyak tanggung jawab yang terlibat karenanya— terdengar seperti cara yang aneh untuk
menyia-nyiakan energi.

“Jadi, dalam 48 anggota komite, 24 orang adalah pembawa kotak, 2 orang adalah distributor
kotak, satu orang adalah pembawa kunci, dan 10 orang adalah penghitung.”

"Selain itu, ada ketua, dua wakil ketua, dan dua anggota yang menulis penghitungannya di
papan tulis."

"Jadi ada 6 orang yang tidak punya tanggung jawab."

"Beberapa orang mengurus berbagai pekerjaan dan bersih-bersih. aku tidak berpikir mereka
ada hubungannya dengan itu.”

Satoshi bersandar dekat denganku.

"Dengan ini, kita memiliki ide tentang 48 orang yang bertanggung jawab. Ini mungkin
sebuah petunjuk yang menjanjikan."

" Mungkin saja kita tidak mendapatkan apa-apa, tapi percakapan kita sekarang terbukti
sangat membantu."

"Oh? Kenapa begitu?'

Di depanku duduk semangkuk ramen memancarkan aroma manis kecap manis. Mie itu tipis
dan bergelombang dan kaldunya berwarna gelap dan dalam. Ada dua potong chashu, dua
potong bambu, dan di tengah mangkuk ada setumpuk hijau, bayam yang baru direbus.

"Satu mangkuk ramen sudah siap!"

Aku mengambil salah satu sumpit sekali pakai dan memisahkannya dengan jepretan yang
bersih. Aku menunduk memandangi sumpitnya, dipisahkan dengan indah dengan tepi yang
bersih, dan menanggapinya.

"Ini membantuku mempersingkat waktu menunggu."

"Silakan makan. Jangan menungguku."

"Akan kulakukan."

Terima kasih banyak.



Pemilik tokonya tidak berbohonh ketika dia bilang kami tidak akan menyesal datang ke sini.
Tidak ada yang istimewa dari ramen berbasis kecap lainnya, dan jika ada, itu sedikit asin,
tapi justru aspeknya yang membuatnya begitu memuaskan hingga sesuai dengan sajiannya.
Aku belum pernah melihat bayam ditambahkan juga, tapi yang dibutuhkan hanyalah satu
gigitan untuk membuat diriku bertanya-tanya mengapa aku tidak melakukannya. Selain
itu— dan aku tidak bisa memutuskan apakah itu lebih baik atau lebih buruk—kuahnya itu
tak bisa dijelaskan dan terlalu panas. Saat ramen pangsit Satoshi segera datang, aku
berteriak, "Ouch, panas sekali.”

"Sial!" Satoshi setuju dalam bentuk teriakan kecil saat ia membawa mie ke bibirnya. Dia
melahap sekitar setengahnya seolah sedang tidak sadar, lalu berhenti menggerakkan
sumpitnya untuk meliriku, tampak seperti sedang memeriksa apakah aku melambat..

"Ngomong-ngomong, ini tidak ada hubungannya, tapi—"

Mienya sangat enak ... Aku belum pernah sepenuhnya menyadari rasa ramen. Aku tidak
berpikir itu bahkan itu rasanya sendiri. Mungkin teksturnya?

"Apa kau mendengarkan?"

"Yeah"

"Pangsit ini benar-benar luar biasa."

"Beri aku satu."

"Enak aja. Tapi yeah, apa kau tahu? Rupanya Chitanda sedang berbicara tentang
mencalonkan diri sebagai ketua OSIS."

Sumpitku berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan.

"Berita bagiku."

Satoshi meniupi pangsitnya untuk mendinginkannya dan kemudian menelannya dengan
sekali teguk.

“Kurasa dia cukup populer di SMP Inji, dan dia dari keluarga penting di Jinde. Nilai-nilainya
luar biasa, dan dia sangat menyenangkan. Rumor mengatakan kalau bahkan kepala sekolah
melihat apakah dia akan mencalonkan. Dia membuat sebuah nama untuk dirinya sendiri
selama serangkaian insiden festival budaya, dan itu hanya diperbesar saat berita tentang dia
berpartisipasi dalam Festival Boneka Hidup. Semua yang benar-benar hilang adalah track
record aktivitas klubnya.”

Mungkin benar bahwa menjadi Ketua Klub Klasik tidak berpengaruh banyak untukmu di
departemen itu.

“Aku tidak bilang kalau aku tahu segalanya tentang dia—"

Aku mengambil jalinan mie panasnya dan menahannya di atas mangkuk untuk
mendinginkannya secara alami.

"— Tapi kurasa dia bukan tipe orang yang bisa melakukan apa yang perlu dilakukan sebagai
seorang ketua OSIS."

"Mayaka yang memimpin dengan antologi juga. Tapi itu tidak berbeda. Beberapa orang
akan mengatakan kalau ketua disukai oleh orang lain, itu sudah cukup; Yang harus kau
lakukan hanyalah mendukung mereka dalam melakukan hal-hal itu.”

Sesuatu seperti kuil portabel dekoratif, huh? Rasanya seperti dia memanggil ketua OSIS,
sebuah entitas simbolik murni adalah lelucon, tapi mengingat bahwa kami memiliki ketua
panitia pemilihan yang dominan sebagai contoh, aku tidak bisa benar-benar
mengesampingkan apa yang dia katakan sebagai sebuah kemungkinan.
[TL/N : Maksudnya cuma jadi maskot doang]

"Yah, dia akhirnya tidak mencalonkan dirinya."

"Yep. Seperti yang kau bilang tadi, Houtarou, Rupanya Chitanda tidak merasa dia orang yang
tepat untuk pekerjaan itu. Bisa dibilang, sepertinya dia tertarik jika menjadi ketua OSIS
berguna setelah lulus."

"Berguna... Seperti sebagai rekomendasi?"


Aku dengar kalau menjadi ketua OSIS membuat rekomendasi kuliah menjadi sederhana.
Padahal, aku tidak bisa mengerti mengapa dia mempertimbangkan untuk mencalonkan diri
sebagai ketua OSIS dengan ujian masuk perguruan tinggi.

Satoshi tertawa dan melambaikan tangan menyanggahnya.

"Aku meragukannya."

"Yeah."

"Rupanya itu lebih sesuai dengan pengalaman yang mewakili SMA Kamiyama yang
membantunya saat dia mewarisi keluarganya."

Aku kehabisan mie. Aku ingin mengambil mangkuknya dan meminum kaldunya, tapi
kaldunya masih terlalu panas. Dengan linglung aku menatap pemiliknya yang mencuci piring
dan panci besar berisi air mendidih.

Seorang pewaris, huh? Dunia tempat dia tinggal jauh dari akal sehat orang biasa. Meskipun
aku datang untuk menyaksikan keadaan yang menyelimuti dia, bahkan sekarang pun, aku
tidak dapat sepenuhnya memahaminya. Ketika aku mencoba, aku tidak bisa tidak merasa
heran bahwa sesuatu seperti itu ada di zaman sekarang ini. Bagi Chitanda, bagaimanapun,
kata itu, "pewaris," adalah realita miliknya.

"Yeah..." gumam Satoshi dengan acuh tak acuh saat ia menghirup ramen pangsitnya, "Aku
ingin tahu aku harus jadi apa."

Setelah dua kali gagal mengambil mangkuk karena kombinasi berat dan panasnya, aku
melihat beberapa sendok di samping penggilingan lada. Aku mengambilnya segera dan
meraup seteguk.

"Bagaimana kalau pengacara?"

"Pengacara?"

Suara Satoshi meledak seolah ada yang memberitahunya bahwa ada makhluk mitis di
dekatnya.

"Haha, dari mana ide seperti itu muncul?"

Ramen di toko ini pasti membuatku tertarik. Aku harus mencoba ramen pangsit lain kali
seperti yang dipesan Satoshi. Aku telah meraup kaldu begitu banyak sehingga kelihatannya
mudah mengalir di ujung sendok, jadi aku memiringkannya bolak-balik untuk
mengosongkannya sedikit.

"'Karena kau adalah pahlawan dalam bayangan.’"

" Menurutmu..."

"Seorang pengacara adalah hal pertama yang muncul dalam pikiranku. Jika bukan itu ... Lalu
bagaimana dengan seorang pembunuh bayaran? Menyerang pelaku kejahatan dengan satu
pukulan di bawah tabir malam."

"Ha... ha..."

Dengan tawa garing, Satoshi kembali ke mie pangsitnya. Kami telah makan dengan
kecepatan yang sama, tapi masih tersisa nasi. Sepertinya kita akan berada di sini sedikit
lebih lama.

Sepasang pria berwajah memerah yang mengenakan pakaian bisnis masuk ke toko yang
sebelumnya hanya ada kami berdua. Pemiliknya berkata, "Selamat datang!" Mungkin
mabuk, mereka berteriak dengan suara yang sangat menjengkelkan:

"Dua mangkuk ramen!"

"Dan dua bir. Kau punya snack?"

Aku merasa seperti mendengar Satoshi menggumamkan sesuatu di tengah-tengah interior
toko yang hidup.

"Aku tidak pernah mempertimbangkan pilihan itu... Menarik."

Aku penasaran apakah aku secara tidak sengaja membawa seorang pembunuh bayaran ke
dunia ini.



5.

Saat kami meninggalkan toko, angin sepoi-sepoi yang hangat dari malam Juni mulai bertiup
dengan lembut mengayunkan lampion merahnya ke depan dan ke belakang. Satoshi sudah
mencoba membayar ramenku, menyebutnya sebagai biaya konsultasi, tapi aku sudah
menolak keinginannya. Biaya konsultasi ... bisakah kau mempercayainya ?! Kepala pria ini
terkadang seperti ini. Bagian dirinya yang seperti ini tidak baik sedikit pun. Untung aku
punya pandangan jauh ke depan untuk membawa beberapa lembar seribu yen sebelum
datang ke sini.

Uang kembalian di saku bajuku berdenting hati-hati bersamaan dengan setiap gerakan yang
kulakukan. Satoshi melihat sekelilingnya dan kemudian mengintip jam tangannya.

"Tampaknya sudah cukup gelap, aku kira kita harus segera pulang. Maaf telah memanggilmu
keluar pada saat seperti ini."

" Aku tidak keberatan. Maksudku, yang harus aku lakukan di rumah hanya mencuci semua
piring dan seluruh kamar mandi."

"Kau marah, bukan..."

"Engga sama sekali. Jika kita pulang, bisakah kau mengantar ke rumahku? Terlalu
menyeramkan pergi sendirian."

Candaan ini sangat mengejutkan dia.

Bulan April lalu, Satoshi mengunjungi rumahku karena serangkaian acara yang tidak
terduga. Itu bukan seperti dia berkunjung lagi setelah itu, jadi aku membayangkan dia tidak
akan mengingat jalan yang tepat untuk ditempuh agar bisa sampai ke sana, tapi aku yakin
dia tahu perkiraannya.

"Oke, kalau begitu, ayo," katanya, sambil berjalan sebelum diriku.

Sepertinya jalannya mudah ke rumahku dari toko ramen menggunakan trotoar di sepanjang
jalan yang lebar. Cahaya lampu jalan yang lembut membawa cahaya dingin musim dingin ke
pikiranku dan membuatku mengingat musim panas yang selalu mengenaskan. Sebuah mobil
polisi kecil melaju di sepanjang jalan yang tidak padat lalu lintas, dan meski itu membuatku
sedikit ketakutan, itu terus berlanjut tanpa henti untuk menegur kami karena sudah terlalu
malam.

" Aku sudah berpikir," aku mulai berkata, " tidak peduli berapa kali aku mencoba
membayangkan kapan seseorang mungkin memasukkan suara tidak sahnya, aku selalu
berakhir aku di jalan buntu. Karena kotak-kotak itu diperiksa, aku tidak mungkin bisa
membayangkan bahwa surat suara telah diatur sebelumnya. Selain itu, setiap kotak yang
memiliki empat puluh lebih surat suara yang ditambahkan padanya akan mudah menonjol
dari yang lain dan memisahkan kalau sepuluh kotak suara akan memerlukan banyak
bantuan."

Meskipun aku hanya mengulangi apa yang Satoshi telah katakan padaku sebelumnya, dia
mengangguk kembali dengan sungguh-sungguh.

"Tepat. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh dari itu."

"Maka kita tidak punya pilihan selain mengubah pendekatan kita."

Dari mana suara yang melebihi total jumlah seluruh siswa berasal?

Di titik mana mereka bercampur?

Tiba-tiba, Satoshi berseru, "Aku mengerti."

"Ini hanya dugaan, tapi bagaimana jika surat suara itu ada di atas meja sejak awal?"

"Sungguh?"

Teoriku yang dibutuhkan itu secara tragis mengurangi antusias Satoshi.

"Tidak, itu mustahil," dia melanjutkan. "Tentu saja, asalkan tidak ada suara yang tidak
terlihat di meja yang diteliti secara publik."

“Aku ragu ada surat suara yang tak terlihat. Bagaimana jika ada anggota panitia yang tak
terlihat?”

Satoshi mengernyitkan matanya.

" Apa kau keberatan jika aku bertanya apa sih yang sedang kau bicarakan?"

"Tidak."

Trotoarnya menyilang di depan sebuah pompa bensin yang ditinggalkan. Pemandangan
yang sepi dari luas bangunan beton yang tak berpenghuni mengundang perasaan tidak
nyaman yang aneh.

“Dari apa yang telah aku dengar sejauh ini tentang proses pemilihannya, ada dua
kekurangan besar. Jika aku memanfaatkannya, aku yakin aku bisa menggabungkan suara
tidak sahnya.”

Meski kukira dia akan mengatakan sesuatu, Satoshi terdiam. Mungkin dia berusaha untuk
tidak mengganggu. Apapun itu, aku melanjutkan.

"Yang pertama adalah pos pemeriksaan bagi anggota panitia yang membawa kembali kotak
suara mereka dari kelasnya. Setelah itu ada konfirmasi oleh banyak orang untuk
memastikan bahwa kotak itu kosong dan bahwa surat suara itu dibundel dalam kelompok
yang tepat dua puluh. Namun, verifikasi untuk setiap anggota 'kelas dan angkatan' yang
kembali tidak dilakukan dengan cara yang sama. Jika apa yang kau katakan itu benar, maka
bagian dari proses itu dilakukan oleh individu."

Menurut Sathoshi, para anggota komite berkumpul kembali ke ruangan dan memeriksa
mereka dalam daftar untuk menunjukkan siapa yang sudah kembali ke ruang OSIS.

"Kertas yang mereka tandai kemungkinan hanya mencantumkan nama kelas dengan
lingkaran atau silang atau apapun di sampingnya. Meski itu panitia pemilihan yang sama,
aku ragu mereka semua saling mengingat wajah masing-masing. Seandainya aku, secara
hipotetis, pergi ke ruang OSIS dengan kotak Kelas 2-A dan memeriksa kelasku, aku mungkin
tidak akan menarik banyak kecurigaan."


Suara gumaman Satoshi yang kecil tampak tersangkut di tenggorokannya.

"Kau mungkin benar tentang itu, Houtarou... Cukup benar, tidak ada yang mengkonfirmasi
kalau orang yang pergi dengan kotaknya adalah orang yang sama dengan orang yang datang
bersamanya kembali ke ruang OSIS."

"Surat suaranya adalah bagian yang penting. Sebenarnya, tidak masalah siapa yang
membawa kotak itu; itu tidak berpengaruh pada pemilihan. Daftar kelas juga hanya untuk
tujuan memastikan bahwa semua kotak sudah dikembalikan."

"Itu benar," Satoshi mengangguk, tenggelam dalam pikiran. "Surat suaranya adalah bagian
yang penting. Celah yang kau tunjukkan ini tidak kecil, tapi tetap saja itu tidak menjawab
pertanyaan di balik saat seseorang bisa menambahkan suara tidak sahnya."

"Saat itulah celah kedua menjadi penting."

Aku mencoba membayangkan apa yang terjadi hari ini sepulang sekolah, kapan, sebelum
pemilihan, anggota panitia pemilihan menerima kardus mereka—kotak kokoh yang terbuat
dari kayu berwarna kuning tua.

“Kau mengatakan bahwa kotak-kotak itu tidak ditugaskan ke kelas tertentu sebelum
menyerahkannya, benar?”
"Yeah, aku mengatakannya."

Sebelumnya, dia sudah memberitahuku bahwa kotak-kotak itu masing-masing diserahkan
kepada siapa pun yang paling dekat di barisannya.

"Apakah itu masalah??" Dia melanjutkan.

" Mendistribusikan kotak secara acak bukanlah masalah dalam dirinya sendiri. Hal yang
sama berlaku karena anggota panitia memeriksa diri mereka setelah kembali ke ruang OSIS.
Jika kau menggabungkan keduanya, bagaimana menurutmu akan terjadi?"

Satoshi menyilangkan lengannya dan menatap langit yang mendung saat dia berjalan diam.
Dia hendak bertabrakan dengan tiang telepon, jadi aku menarik lengan bajunya untuk
memindahkan dia.

"Jadi apa yang kau katakan, Houtarou, apakah salah satu siswa yang kembali ke ruang OSIS
dengan sebuah kotak mungkin bukan anggota panitia pemilihan? Aku tidak begitu yakin
bahwa ada hubungannya dengan kotak yang didistribusikan secara acak... "

"Kau salah. Itu bukan apa yang ingin aku katakan."

Ini bukan seperti aku mencoba menguji Satoshi atau apapun, jadi tidak ada gunanya
menahan jawabannya. Alasan aku mengulangi pertanyaanku adalah jadi aku bisa
mengatakan semuanya dengan benar tanpa harus berbelit-belit di kepalaku.

" Yang aku maksud adalah: sistem pemilihannya tidak akan mampu menghitung suara,
bahkan jika seorang siswa yang bukan anggota panitia pemilihan membawa masuk sebuah
kotak yang tidak ditunjukkan ke kelas manapun."

Setelah sesaat kebingungan, mata Satoshi terbelalak.

"Tidak bisa dipercaya, Houtarou, itu tidak mudah dilakukan, kau tahu?"

Menurut pemahamanku tentang pemilihan ketua OSIS SMA Kamiyama seperti yang Satoshi
sudah jelaskan, ada banyak tindakan untuk mencegah kesalahan manajemen dan
penghitungan yang salah dari surat suara tersebut. Jika aku berasumsi, bagaimanapun,
anggota panitia pemilihan palsu membawa sebuah kotak suara palsu, tidak ada tindakan
balasan untuk menghalangi jalannya.

Satoshi mengangkat tangannya yang terbuka, yang telapak tangannya menghadapku.
”Bukankah itu agak aneh? Memang benar anggota panitia pemilihan tidak memiliki tanda di
lengannya atau semacamnya, jadi cukup mudah untuk berpura-pura menjadi mereka, tapi
apa yang akan mereka lakukan tentang kotaknya? Aku tahu sudah berapa lama mereka
sudah terbiasa, tapi aku tahu pasti kalau kotak-kotaknya sudah tua. Mereka bukan tipe
barang yang bisa kau curi semalam. Jika seorang siswa masuk dengan beberapa kota tua,
akan sulit untuk tidak menyadarinya. "

Dia berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan.



"Selain itu, juga akan buruk berasumsi kalau pelakunya diam-diam membawa kotak
suaranya ke dalam ruangan, menambahkan suara tidak sah ke dalamnya, dan kemudian
membiarkannya seolah-olah itu tidak bukan masalah baginya. Setelah kotak-kotakanya
benar-benar dikosongkan, kotak suara dikumpulkan dan kemudian ditumpuk di ruang OSIS.
Tidak mungkin lolos dengan sesuatu seperti itu kecuali kau punya kotak yang tepat."

"Benar. Intinya, selama ada kotak selain 24 kotak yang digunakan dalam pemilihan tahun
ini—sebuah kotak berwarna kuning dengan kunci dan kata-kata "kotak suara" tertulis di
sampingnya— itu mungkin."

"Di mana kau akan menemukan kotak seperti itu?"

Di mana? Yah...

"Mungkin di ruang penyimpanan di sisi khusus di lantai pertama."

Lagi pula, di situlah kotak suara seharusnya disimpan.

Sambil mengenakan ekspresi yang tampak jengkel, Satoshi menancapkan kakinya ke tanah
dengan setiap langkah yang dia ambil.

"Di situlah kita punya kotak untuk pemilihan tahun ini — bukan yang kalian seharusnya
simpan."

Aku juga menjadi kesal. Siapa yang mengatakan bahwa hanya ada 24 kotak suara di ruang
penyimpanan? Kenapa tidak sampai ke dia? Saat aku memikirkan ini, tiba-tiba aku sadar.
Aku mengerti. Itu bukan salah Satoshi kalau tidak dia mengerti. Ini masalah semua anggota
panitia.

"Surat yang ditujukan untuk kakakku."

"Wha—" Satoshi menatapku, tercengang oleh perubahan percakapan yang tiba-tiba. "Oh,
ya, Uh, bagaimana kabarnya?"

“Baik. Terima kasih sudah bertanya. Dia kembali kuliah, jadi dia tidak di rumah sekarang,
namun sebuah surat tiba di rumah untuknya. Sungguh merepotkan. Aku harus
meninggalkannya di tempat yang kuingat sampai dia kembali.”

Kenapa kau tidak meneruskannya saja padanya...?"

Kejutan itu mengguncang seluruh tubuhku. Tentu saja, semuanya sangat sederhana. Kenapa
aku tidak meneruskannya saja padanya? Kenapa aku tidak menyadarinya sebelumnya?

"Houtarou?"

"Oh maaf. Aku hanya sedikit terkejut. Kembali ke topik, surat itu adalah pemberitahuan
tentang reuni kelasnya."

Satoshi tampak tidak puas, seolah ingin bertanya bagaimana menyebutkannya kembali ke
topik pembicaraan.

"Um, dengar..."

"Reuni untuk kelas 3-I."

Sebuah RV besar, meledakkan hip hop energik dari jendela-jendelanya, melaju melewati
kami. Satoshi membuka kedua tangannya di depannya dan mulai melipat jarinya ke bawah
satu per satu. A, B, C, D ...

"Jadi begitu. Sembilan kelas...."

Aku mengangguk.

"SMA Kamiyama yang memiliki delapan kelas per angkatan adalah satu-satunya hal yang
terjadi saat ini. Sebelumnya, ada sembilan kelas, dan mungkin di beberapa tahun lain,
bahkan ada sepuluh kelas. Mungkin saja tahun depan akan ada tujuh kelas, dan akhirnya
enam setelah itu.”

"Aku paham. Itu sangat jelas. Jumlah muridnya... jumlah anak-anaknya yang berubah, tapi
sekolahnya terus ada."

Kami mengenali diri kami yang ada di SMA Kamiyama. Itu tidak salah, tapi masalahnya tetap
saja, sekolah tetap ada tanpa ada penghormatan untuk keberadaan kita. Ada titik di mana
ada sembilan kelas dalam satu angkatan, dan saat itu juga punya pemilihan ketua OSIS.
Dilihat dari keadaan kotak suara, akan lebih aman jika mereka telah menggunakan kotakkotak
itu
sejak
saat
itu.

Aku tidak bisa membayangkan mereka akan membuang kotak ekstra itu. Bagaimanapun
juga, sekali lagi, Kamiyama akan memasuki zaman saat ada sembilan kelas per angkatan.
"Di ruang penyimpanan di sisi khusus di lantai pertama tertidurlah kotak suara dari zaman
ketika ada lebih banyak siswa daripada sekarang. Pelakunya tahu itu, mengambil salah satu
dari kotak itu, memberikan suara tidak sah di dalamnya, berpura-pura sebagai anggota
panitia pemilihan, lalu membawanya ke ruang OSIS."

"Dia tidak menulis apapun di daftar nama kelas. Meskipun kotak itu seharusnya sudah
dikunci, dan harus dibuka oleh kunci anggota panitia pemilihan yang bertanggung jawab."

"Lagi pula hanya ada satu kunci. Masuk akal kalau semua kotak akan dibuka oleh orang yang
sama. Memeriksa tumpukan kotak suara di ruang OSIS besok pagi, dan jika memang ada 25,
itu akan menjadi bukti untukmu.Lagi pula, tidak ada waktu untuk mengembalikan kotak itu
ke ruang penyimpanannya."

Jika kau menyadari kalau kotak suara tambahan ada sebagai peninggalan masa lalu SMA
Kamiyama, tidak sulit untuk dilihat melalui tipu muslihat di balik suara tidak sah tersebut.
Karena aku memiliki kakak perempuan yang berasal dari sekolah yang sama, aku bisa
melihat SMA Kamiyama sebagai satu hal lain dalam arus waktu, namun bagi Satoshi, yang
hanya memiliki adik perempuan, dia terlambat menyadari kenyataan itu. Itu semua ada
untuk itu, tapi meskipun begitu, itu meninggalkan rasa tidak enak di mulutku. Meskipun
kupikir aku sudah terlalu akrab dengan berlalunya waktu, sepertinya aku diberi tahu,
"Mungkin kau sama sekali tidak mengerti maknanya di baliknya."

“Aku terlalu terpaku pada apa yang ada di dalam kotak ... Sesuatu yang hilang, " Satoshi
bergumam pelan.

Aku mengangkat bahu untuk menanggapi komentar kontemplatifnya yang aneh itu, dan
gerakan itu menyebabkan koin-koin itu di saku kemejaku berdenting.


6.

Dari apa yang dia katakan kepadaku di kemudian hari, Satoshi memberi tahu ketua komite
umum tentang hipotesis yang kami buat pada malam itu, dan ketua tersebut mengatakan
kepada ketua panitia administrasi pemilihan secara bergantian. Tampaknya ketua panitia
pemilihan mencurigai siswa baru kelas 1-E habis-habisnya, tapi karena pada kenyataannya
mereka menghitung ada 25 kotak di ruang OSIS, saat itu dia berhenti bersikap begitu keras
kepala.

Lubang di dalam sistem disegel dan pemilihan diadakan sekali lagi, sehingga Seiichirou
Tsunemitsu melangkah untuk mengambil posisi sebagai wakil ketua OSIS siswa baru. Dalam
pidato penerimaannya, memberikan sebuah siaran di seluruh sekolah saat makan siang,
tidak ada satu pun penyebutan masalah yang sebelumnya telah terjadi.

Kami tidak tahu siapa yang memasukan suara tidak sah tersebut. Dalam kata-kata Satoshi
sendiri, "Mengingat itu adalah tugas panitia pemilihan. Aku tidak ada hubungannya dengan
hal itu."

Aku sepenuhnya setuju



2. Yang Tak Terpantul Dalam Cermin


Volume 6 – Bahkan Walaupun Aku Sudah Diberitahu Sekarang Aku Memiliki Sayap いまさら翼といわれても

Original Author: Honobu Yonezawa
English Translation by Baka-Tsuki (manlyflower)
Indonesian Translation by iNapoleon